Minggu, 04 Desember 2011

cuplikan grebeg suro 2011

Posted by UD. SUROMENGGOLO 08.36, under ,,, | No comments


Jumat, 17 Juni 2011

Festival Reog dan Jathilan 19 Juni 2011 Kaliurang

Posted by UD. SUROMENGGOLO 00.42, under | No comments

Recovery kawasan wisata Kaliurang benar- benar menjadi perhatian serius Dinas Pariwisata Provinsi DIY. Beberapa event penting selama tahun 2011 ini sengaja digelar di kawasan utara Jogjakarta yang terkenal berhawa sejuk ini. Beberapa acara seperti : Festival Kuliner, Panggung Seni dan Musik dan Hari Minggu tanggal 19 Juni 2011 mendatang , Dinas Pariwisata DIY kembali akan menggelar acara Festival Reog dan Jathilan 2011 yang berlangsung di Panggung Kesenian Tlogo Putri, Kaliurang.

Mohammad Haliem -Ketua Pelaksana kegiatan berharap acara ini akan menjadi daya tarik wisata bagi masyarakat termasuk wisatawan dari luar Jogjakarta. Sehingga upaya recovery Merapi akan bisa pulih kembali.

"Saat ini sudah 100% Merapi pulih dan aman dikunjungi, sehingga berbagai event yang digelar ini bisa mendongkrak minat wisatawan untuk datang sekaligus menghidupkan kembali beberapa potensi seni tradisional yang ada di Sleman," tandas Haliem.

Acara akan berlangsung sehari penuh dan gratis untuk msyarakat. Dimulai pukul 09.00 - selesai.

Sumber : http://www.visitingjogja.com

Kamis, 09 Juni 2011

Reog naik becak

cuman pngen ngasih liat hasil penemuan foto yg cukup unik,,, yaitu main reog sambil naik becak

Sabtu, 28 Mei 2011

Reog Ponorogo + Rumingkang di PAS MANTAB TRANS7

Posted by UD. SUROMENGGOLO 07.45, under | No comments


Baru aza saya nonton tivi, tepatnya di Trans 7 yaitu di acara PAS MANTAB yg merupakan acara dari SULE, ANDRE TAULANI dan PARTO. Acara pada malam hari ini adalah Ulang Tahun PAS MANTAB, dengan acara dibuka oleh Rumingkang kemudian di lanjutkan Reog Ponorogo yang sempat mengangkat SULE diatas reog. Untuk gambarnya maaf saya belum dapatkan,

Memayu Hayuning Bahwono Angleluri Budoyo Bongso

Rabu, 25 Mei 2011

Main reog di dalam air

Mungkin Anda pernah melihat pertunjukan Reog Ponorogo di jalan atau lapangan terbuka saat acara tertentu. Namun, kini pertunjukan akan dibuat berbeda, dilakukan di dalam air aquarium utama Seaworld.

Pertunjukan ini dilakukan dalam rangka menyambut hari Ulang tahun PT Seaworld Indonesia Ke-15.


Meskipun terbilang sulit, mengingat peralatan Reog yang beratnya mencapai 20 kilogram dan panjang 3 meter, tapi tetap membuat si penari leluasa bergerak di dalam air. Dengan ayunan tarian yang luwes di kolam berkedalam 6 meter mampu menyihir para penonton khususnya anak-anak. Sebelum dimulai pertunjukan mereka diberikan pengetahuan tentang sejarah Reog. Dengan antusias mereka pun menyimak.

Puluhan pengunjung pun bersorak ketika reog Ponorogo yang terkenal itu menari di antara ikan-ikan, sambil menyapa di dalam aquarim. Anak-anak itu merasa terhibur dan bisa bermain sekaligus belajar.

Meskipun ini baru gladi resik, nampaknya pagelaran ini sudah mampu menyisih pengunjung. "Memang untuk gelarannya pada 7 Juni 2009 nanti, itu puncak acara ulang tahun Seaworld, meskipun hari ultahnya jatuh hari ini," kata Direktur PT Seaworld Indonesia, Sonny W. Widjanarko dalam jumpa pers Hari Ulang Tahun Seaworld Indonesia Ke-15, Ancol, Jakarta, 3 Juni 2009.

Pegelaran ini juga akan masuk rekor muri ke-21 bagi Seaworld Indonesia. Sebab pertunjukan ini pertama di dunia dan Indonesia. Nantinya Reog di dalam air akan bertemu dengan Reog di luar air. "Hanya satu orang penari Reog yang ada di dalam aquarium, mengingat Reog itu ukurannya besar, jadi tidak bisa semuanya masuk," tegasnya.

Makanya nanti akan dipertemukan dengan penari reog yang lengkap di luar air. Pertunjukan reog akan berlangsung selama 25 menit. Kenapa reog yang dipilih, menurutnya itu merupakan kebudayan Indonesia yang harus dilestarikan, karena beberapa waktu lalu reog diklaim oleh negara lain sebagai kebudayaan mereka.

"Kita ingin anak-anak tahu kalau reog itu punya bangsa indonesia, jadi harus menjaganya," imbuhnya.

Penari Reog tersebut merupakan penyelam profesional, jadi tidak perlu takut akan merusak satwa dan biota laut yang ada di aquarium utama. Selain menggelar pertunjukan Reog Ponorogo, Seaworld juga akan meresmikan wahana baru yakni Fish Dip (Fisioperahy kulit menggunakan ikan Garra Rufa), bukan itu saja, ada juga Tarian Saman, Debus dan Ondel-ondel meskipun tidak dilakukan di dalam air.

Ultah ini semakin meriah dengan adanya aksi donor darah dan Camping Under The Sea bersama Klub SiWoli yang akan berlangsung tanggal 20-21 Juni 2009. "Bulan Mei kemarin kami juga sudah memberikan program gratis masuk Seawolrd bagi guru dan dosen di seluruh indonesia. Kurang lebih 300 guru dan dosen datang kesini. Program Ini akan berlangsung setiap tahunnya pada bulan Mei," ungkap Sonny.

Syaratnya hanya dengan menunjukkan Kartu PGRI atau NIM Sekolah tempat mengajar. Sdangkan untuk keluarga guru mendapat diskon 25 persen. "Ini semua kami lakukan sesuai dengan moto Seaworld Indonesia 'Tak Kenal Maka Tak Sayang'," katanya.

for vivanews

Senin, 23 Mei 2011

Proses Pemasangan Bulu Merak

Posted by UD. SUROMENGGOLO 18.46, under | No comments

Festival Reog Jember (FRJ) III 2011

Paguyuban Seni Reog Mahasiswa (PSRM) Sardulo Anurogo Universitas Jember telah menggelar agenda tahunan, “Festival Reog Jember (FRJ) III 2011”.

Kegiatan ini telah diadakan pada tanggal 21-22 Mei 2011 mulai jam 19.00 WIB di parkir utara Gedung Soetardjo. Tercatat ada tujuh peserta yang unjuk kebolehan.

Menurut Ketua PSRM Sardulo Anurogo, Diding Cahyono, FSRJ digelar untuk menjaga kelestarian kesenian reog di kabupaten Jember dan daerah lainnya (khususnya Tapal Kuda).

Pelestarian ini khususnya ditujukan kepada generasi muda agar lebih peduli akan kelestarian budaya. Kegiatan ini juga dimaksudkan sebagai wahana ruang bagi pelaku seni tradisional reog yang tumbuh dan berkembang di kabupaten Jember dan di daerah Tapal Kuda.

Sementara tema dari kegiatan ini adalah “Reog The Legend Of East Java” maksud dari tema ini adalah menggambarkan tentang seni reog yang merupakan suatu legenda yang lahir di Jawa Timur yang sekaligus merupakan suatu spirit yang tumbuh dan berkembang bagi masyarakat khususnya di Jawa Timur.

Reog juga merupakan suatu legenda yang lahir sebagai suatu budaya yang memiliki nilai sejarah yang cukup tinggi dan sekaligus menjadikan seni reog sebagai suatu warisan budaya yang bukan hanya dimiliki oleh Indonesia saat ini, namun sudah menjadi suatu warisan budaya yang diakui oleh dunia internasional.

Peserta yang unjuk kebolehan antara lain Reog Singo Muncul dari Pontang, Ambulu, Singo Mudho, Kesilir Wuluhan, reog Kridho Budoyo, SMPN 1 Ambulu, Bantar Angin Probolinggo dan lainnya.

Sabtu, 14 Mei 2011

Anggota Polri Pandai Main Reog Ponorogo


PONOROGO, Kesenian Reog Ponorogo ternyata bisa mempermudah Polri dalam membangun kemitraan dengan berbagai elemen bangsa, sekaligus mencitrakan kepolisian yang kian dekat dengan rakyat. Ini dibuktikan oleh anggota Polri di wilayah Kepolisian Resort (Polrest) Ponorogo, Jawa Timur yang ternyata mampu menyatu dengan masyarakat. Puluhan anggota Polres Ponorogo dari empat Polsek, yaitu Polsek Sambit, Polsek Mlarak, Polsek Jetis dan Polsek Sawo, unjuk kebolehan memainkan kesenian Reog Ponorogo dengan rancak di pasar tradisional Tamansari, Desa Sambit, Kecamatan Sambit.

Bahkan Kapolsek Sambit, AKP Waspodo sempat memainkan dadak merak Reyog Ponorogo. “Ini membuktikan bahwa kemitraan polisi dengan masyarakat tetap ada dan terjaga kapan dan dimana saja,” ujar AKP Waspodo kepada Pewarta HOKI, Kamis (12/5) tadi. Bukan itu saja, seluruh personil seni Reog dimainkan oleh anggota Polri berseragam. dalam acara tersebut, terlihat dua anggota Polwan Polres Ponorogo dengan lemah gemulai menari ‘Jathilan’ dan seorang anggota Polri sebagai penari ‘Bujangganong’.

Ditambahkan Waspodo, banyak orang yang meminta foto bersama, artinya, dengan Seni Reog Ponorogo yang dimainkan anggota Polri dari Polres Ponorogo menunjukkan kedekatan masyarakat dengan Polri. “Ini aset, Polri yang harus jaga sampai kapanpun,” katanya. Sementara itu, Djoko Santoso, Kades Sambit mengaku kaget dengan penampilan anggota Polres Ponorogo yang cukup atraktif memainkan seni Reyog Ponorogo.

”Sungguh luar biasa penampilan Reyog Ponorogo dari para anggota Polres Ponorogo ini,” ungkap Djoko Santoso. Senada dengan Djoko Santoso, Tuji, warga Desa Prayungan, Kecamatan Sawoo juga mengaku terhibur dengan seni Reyog Ponorogo milik Polres Ponorogo.

”Mudah-mudahan kedepan hiburan gratis tradisional ini bisa terus dibudayakan,” kata Tuji. Sedangkan dengan ungkapan masyarakat Bripka Wiwin S, Polwan dari Polres Ponorogo yang menari ’Jathil’ mengaku bangga dengan kepiawiannya menari. ”Ini semua membuktikan anggota Polri sangat dekat dengan masyarakat,” tukas Bripka Wiwin S.

copy for kabarindonesia

Minggu, 08 Mei 2011

Reog Ponorogo Mencuri Perhatian di Jerman

Penampilan Reog Ponorogo berhasil menarik perhatian penonton yang memenuhi sepanjang jalan di udara musim dingin dalam acara Braunschweiger Karneval di Kota Braunschweigh, Jerman, Minggu.

Indonesia berhasil meraih juara pertama dalam Braunschweiger Karneval di Kota Braunschweigh, ujar Konsul Pensosbud KJRI Hamburg Yayat Sugiatna kepada koresponden ANTARA London, Senin. Ribuan orang dengan dandanan warna-warni tumpah ruah di kota Braunschweig, negara bagian Niedersachsen, merayakan pesta tahunan yang bernama Braunschweiger Karneval.

Suasana karnaval sangat terasa di seluruh kota Braunschweig yang diselimuti salju dan cuaca dingin sejak dua bulan lalu. Konjen RI Hamburg, Teuku Darmawan, mengatakan KJRI Hamburg bekerjasama dengan Perhimpunan Indonesia-Jerman (DIG) Niedersachsen turut dalam pesta tradisi tersebut, sekaligus mengisi rangkaian peringatan HUT kerjasama sister city Bandung-Braunschweig yang genap 50 tahun pada tahun ini.

Acara yang menonjol pada perayaan karnaval tersebut adalah parade aneka busana batik tradisional, maupun kontemporer yang dikenakan peserta dengan keliling kota Braunschweig sepanajang enam kilometer. Parade karnaval Braunschweig dimulai pukul12.30 dan berakhir pukul 17.30, selama lima jam keliling kota Braunschweig diikuti sekitar 300 grup yang setiap pesertanya menggunakan truk atau mobil bak terbuka yang didekor dengan unik dan kreatif.

Selain itu, setiap grup menampilkan tari-tarian dan alat musik yang menjadi daya tarik penonton sepanjang jalan kota Braunschweig. Kendaraan dari peserta Indonesia dengan nomor urut 259 didekorasi khas Indonesia dengan aneka ornamen, payung, becak dan banner, disertai dengan 30 penari berpakain adat Indonesia yang menampilkan tarian Reog Ponorogo.

Reog Ponorogo
Penampilan Reog Ponorogo sangat menarik perhatian para penonton karena pakaian tradisi Indonesia khususnya Jawa merupakan keunikan dalam karnaval Braunschweig yang belum pernah disaksikan oleh masyarakat setempat. Reog Ponorogo diisi dengan tari kuda lumping, tari Reog Ponorogo, tari Singabarong, di mana penari memakai topeng berbentuk kepala singa serta berbagai busana khas Indonesia lainnya dan pemain musik yang membawakan gong. Kemampuan untuk membawakan topeng Barong yang besar dan berat dikagumi penonton dan menjadi salah satu motif favorit mereka untuk dipotret.

Stasiun televisi terbesar di Jerman Utara, NDR, menyiarkan acara karnaval Braunschweig secara langsung (live). Mereka sangat antusias meliput penampilan Reog Ponorogo. Berita tentang parade karnaval tersebut juga diliput stasiun TV nasional Sat 1. Pada acara penutupan karnaval, panitita mengumumkan Indonesia terpilih sebagai juara pertama untuk kategori peserta tamu, yang mengalahkan lebih dari 100 peserta lainnya. Selama parade berlangsung terjadi interaksi antara penari, pemimpin rombongan dan penonton, sehingga kepuasan penonton dalam pementasan Reog Ponorogo selalu menjadi perhatian utama.

Karnaval yang dilaksanakan setiap bulan Februari merupakan pesta rakyat besar di kota-kota di Jerman menyambut masa Pra-Paskah. Karnaval di kota Braunschweig merupakan karnaval terbesar di wilayah kerja KJRI Hamburg dan ketiga terbesar di Jerman. KJRI Hamburg bekerjasama denga DIG Niedersachsen memanfaatkan acara tersebut untuk mengisi acara peringatan 50 tahun kerjasama sisiter city Bandung-Braunschweig. Konjen RI beserta staf KJRI Hamburg hadir untuk memfasilitasi dan memberikan dukungan semangat kepada group Indonesia guna mensukseskan acara karnaval ini, demikian Yayat Sugiatna. (H-ZG/A038)

Jumat, 06 Mei 2011

PROSES PEMBUATAN REOG

Dibalik keindahan permainan reog ada seni dalam pembuatan peralatan dan perlengkapan reog,
seni tersebut adalah bagaimana suatu produk peralatan reog dapat kelihatan menarik saat dimainkan dan terasa enjoy atau mudah saat pemain reog memainkannya, misalnya suatu dadak merak tidak terasa berat dan tidak stabil. Sehingga kalau seorang pemain reog tidak enjoy dalam menari reog, akankah tariannya akan bagus??? Jadi, seorang produsen harus pintar-pintar dan kreatif dalam pembuatan reog tersebut. Pada bahasan proses pembuatan reog ini saya akan menerangkan tentang proses pembuatan beberapa peralatan reog seperti ragangan (dasaran dadak merak), dadak merak, caplokan (kepala barongan), kendang dll.


RAGANGAN
Ragangan adalah dasaran dari dadak merak, bahannya adalah bambu, rotan, dan benang. Pertama harus membuat rusuknya dari bambu, dari bawah ke atas semakin kecil dan tipis ini berguna agar bisa lemas pada bagian atas reog. Selanjutnya merajut bambu dengan rusuk tadi menggunakan benang, yang sebelumnya bambu sudah di belah2 menjadi kecil sebesar lidi dan panjang. Proses perajutan ini dilakukan dari bawah sampai ujung atas rusuk. Setelah selesai maka tinggal menghias bagian tepi dari rusuk-rusuk dengan rotan dan merajutnya,selain agar lebih indah juga agar kuat. Finishingnya adalah pengecatan, pada umumnya bagian atas merah dan bawah putih, ini melambangkan kita adalh masuk di NKRI dan tak ada negara manapun yg boleh meng-klaim kesenian asli ponorogo Indonesia ini. Warok ponorogo siap maju ke medan perang mempertahankan kesenian ini demi harga diri dan leluhur ponorogo.

DADAK MERAK
Dadak merak adalah komponen utama dalam seni reog, ukuran dari dadak merak bervariasi antara 2 meter sampai 2.5 meter, selain itu ada juga yg lebih besar dan lebih kecil tinggal kemauan dari pembeli. Dadak merak ini dibuat dari ragangan tadi dan dipasang batang merak yang sudah dibelah pada bagian dalam ragangan tadi, batang bulu merak asli adalah bahan terbaik yang dijadikan dasaran ini,,walaupun ada pengrajin yang memakai bunga tebu “gleges” untuk dijadikan dasaran ini,, tapi saya anggap itu tidak kualitas karena tidak bisa bertahan lama sedang kalau pakai batang bulu merak bisa bertahan bertahuntahun. Setelah itu proses pemasangan bulu-bulu merak pada bagian depan dan selanjutnya adalah pemasangan badan burung merak “cohung”, kami mempunyai cadangan burung merak yang mencukupi untuk banyak pembeli. Yang terakhir adalah pemasangan “krakap” atau tempat tulisan identitas dari pemilik reog misalnya dari desa mana atau kecamatan atau provinsi mana gitu.

CAPLOKAN “KEPALA BARONGAN”
Kepala barongan harganya bervarisai berkisar antara 2-11 juta rupiah,,ini tergantung dari kualitas corak dan ukuran dari kulit kepala harimau itu sendiri. Yang harga 2-5 juta merupakan corak bawah sampai menengah sedangkan 6-11 juta merupakan corak menengah sampai kualitas super. Pembuatan caplokan yang pertama adalah pembentukan mulut dari kayu dadap yang ringan dan kuat sehingga pemain reog tidak merasa keberatan dalam menggigit caplokan dan bisa awet dan tahan lama (tidak rapuh), kemudian pemasangan bagian atas caplokan menggunakan bahan mancung (bagian dari pohon kelapa), setelah itu pemasangan kulit kepala harimau dan ditunggu 2-3 hari sehingga sampai kering dan maksimal kualitasnya. Finishingnya adalah pengecatan bagian mulut.

KENDANG
Kendang adalah alat musik yang sangat penting dari gamelan reog, ini dibuat dari kayu pohon nangka yang padat dan tidak berpori-pori sehingga kualitas suara nya lebih bagus dari bahan pohon lain. Pembentukan kendang menggunakan mesin sehingga bisa bagus dan rata, setelah itu dipasangi kulit sapi yang sebelumnya telah direndam air selama semalaman sehingga tidak terlalu rapuh dan bisa awet. Pemasangannya pun menggunakan teori yang bagus sehingga kualitas suara bisa maksimal dan kuat. Setelah itu adalah pemasangan tali, biasanya menggunakan kawat atau daging sapi yang sudah dibuat tali,tinggal selera konsumen. Ini bertujuan agar mudah dalam penyetelan suara tinggi rendahnya. Mungkin hanya ini yang dapat saya berikan tentang proses pembuatan reog sebenarnya masih banyak yang lain yang belum saya jabarkan. Jika anda berminat membeli reog dan peralatannya ataupun sekedar melihat-lihat silahkan datang ke tempat kami yang insyallah kualitas barangnya nomer 1 se ponorogo terutama dadak merak dan caplokan (kepala barongan), trimakasih…..

SILAHKAN DATANG KE
Nama : WARNI
Alamat : dsn.grenteng, ds.Ngampel kec.Balong Ponorogo
No.telf : 081335957677
facebook : Pengrajin Reyog Ponorogo (Pak Warni Grenteng)

Reog di Amerika

Reog memang kesenian yang populer dan semakin populer pada saat ini tidak hanya di ponorogo, tidak hanya di jawa, tidak hanya di indonesia,, akan tetapi sudah merambah ke negara lain seperti jepang dan USA. di sini saya akan menguraikan sedikit mengenai reog yang ada di USA, reog di USA bernama "Singo Lodoyo USA" itu dipelopori oleh warga indonesia yang merantau di sana kemudian seiring waktu berjalan banyak warga USA yang tertarik dengan kesenian ini dan ikut bergabung latihan dengan grup tersebut dibawah naungan organisasi pawargo (paguyuban warga ponorogo) yang ada di sana. organisasi daerah ini mempunyai agenda rutin yaitu kumpul bareng dan ulang tahun organisasi atau hari kemerdekaan RI, dengan mengadakan acara pagelaran reog. di bawah ini saya akan menampilkan sedikit gambar dan link download pelatihan reog di USA.




video youtube mengenai latihan reog di USA bisa di download disini

Rabu, 04 Mei 2011

JANGAN SAMPAI!!! Reog Ponorogo Diklaim Malaysia lagi

Kita sebagai salah satu warga negara yang tinggal di Indonesia tentunya sudah mengenal beberapa kesenian daerah yang ada di negara kita. Pada saat kita masih di Sekolah Dasarpun sudah dikenalkan dengan berbagai macam kesenian daerah yang ada di Indonesia. Mulai dari wayang kulit, ketoprak, ludruk, dan berbagai macam kesenian yang ada di daerah-daerah lain. Salah satu kesenian daerah yang cukup terkenal dari Ponorogo adalah kesenian Reog. Saya sendiri sebagai orang Ponorogo asli cukup mengenal kesedian itu. Di Ponorogo biasanya kesenian Reog ini digelar untuk memperingati acara-acara tertentu seperti acara tujuhbelasan, grebeg suro, dan berbagai acara lain.

Pada awalnya, munculnya kesenian Reog Ponorogo ini berawal dari kisah Raja Kelono Suwandono yang berasal dari kerajaan Bantar Angin hendak melamar seorang putri yang sangat cantik jelita bernama Putri Songgo Langit dari Kerajaan Kediri. Menurut cerita kakek saya (dulu) Kerajaan Bantar Angin ini letaknya di daerah Sumoroto yaitu di wilayah barat kota Ponorogo. Kisahnya sangat panjang kalau diceritakan disini, mungkin akan saya tulis di postingan tersendiri. Akhirnya dari kisah ini muncullah kesenian Reog Ponorogo yang sekarang sudah dikenal dimana-mana bahkan sampai di mancanegara.

Saya sungguh prihatin mendengar kabar yang sedang santer saat ini, terutama di dunia maya tentang kesenian Reog Ponorogo yang diklaim oleh Malaysia menjadi miliknya dengan nama Barongan. Di atas kepala singa diberi tulisan “Malaysia” untuk mempengaruhi orang-orang agar seakan-akan kesenian ini berasal dari Malaysia. Dan anehnya lagi, menurut mereka munculnya kesenian ini berasal dari kisahnya Nabi Sulaiman. Padahal kita semua tahu bahwa hanya ada satu kesenian Reog yaitu Reog dari Ponorogo.


NB: OJO NGANTI DI KLAIM MANEH,,,,,, BILA PERLU PERLUAS WILAYAH JANGKAUAN REOG DI NUSANTARA,,,,, DI SUMATRA N KALIMANTAN SUDAH BANYAK ,, DI IRIAN JAYA ADA SEDIKIT,,, AYO SULAWESI COME ON!!!!! ,,,,,,,,,, NEK DI KLAIM MANEH WANI BACOKAN KARO MALAYSIA

Selasa, 03 Mei 2011

keluarga reog tanah bumbu kalimantan selatan


Memang agak aneh judul saya kali ini, maksud dari keluarga reog tanah bumbu kalimantan selatan ini adalah karena belum lama ini kami mendapat job atau pesanan reog 6 buah langsung yaitu 2 buah reog besar (dewasa), 2 buah reog utk anak SMP dan 2 buah reog utk SD. Reog ini mempunyai nama nogocandolo dari kec.Satui Kab.tanah bumbu Kalimantan selatan. kami ucapkan terimakasih kepada saudara-saudara di Kab.tanah bumbu Kalimantan selatan, semoga awet dan silakan datang lagi ke tempat kami.

Senin, 25 April 2011

PEMBUATAN REOG

Reog ponorogo adalah seni yang sudah mendarah daging pada keluarga kami, selain itu reog menjadi penopang kebutuhan keluarga kami. Kami selalu memproduksi kesenian reog ponorogo setiap waktu demi menjaga kesenian reog dari kepunahan dan supaya tidak lagi di klaim oleh negara lain. walaupun pesanan reog lagi sepi kami tetap selalu memproduksi reog ponorogo ini sebagai stok dagangan kami. Pada kali ini saya Pengrajin Reyog Ponorogo (Pak Warni Grenteng)
akan menceritakan sedikit tentang proses pembuatan reog.

Reog yang utama mempunyai dua bagian yaitu dadak (merak) dan caplokan (kepala macan), dadak itu dibuat dari bahan bambu, batang bulu merak, merak, cat dan benang kasur. yang pertama pembuatan rengkek yaitu membuat dasaran dari bahan bambu yang membentuk reog dan untuk tempat menancapkan bulu-bulu merak, selanjutnya mengisi dasaran yang tadi dibuat dengan batang merak/tlasar, setelah itu bagian yang terakhir memasang bulu merak dan krakap.

Yang kedua yaitu pembuatan caplokan atau kepala macan, caplokan mempunyai bahan dasar kayu dadap, rotan, mancung/pelepah pohon kelapa dan kulit harimau. Prosesnya yang pertama yaitu membentuk kayu dadap dan mengukirnya, yang nantinya menjadi bagan gigi caplokan, selanjutnya memasang mancung/pelepah pohon kelapa dibagian atas kayu tadi yang nantinya menjadi bagian dahi dan kepala bagian atasnya, selanjutnya proses menunggu beberapa hari sampai mancung kering,, kalau sudah kering tahap selanjutnya yaitu memasang kulit harimau pada kayu tadi, dan dibentuk sedimikian rupa sehingga menjadi bentuk kepala macan yang garang. tahap yang terakhir adalah pengecatan bagian mulut dan gigi caplokan dengan warna merah, putih, kuning dan hitam dan memasang gubat/ekor sapi sebagai rambut caplokan.

Sabtu, 23 April 2011

Cerita Tentang Reog v.3 ( Warok )

Walaupun kisah asal-usul reog pada umumnya tidak menyinggung soal warok, termasuk dalam kisah Kelana Sewandana yang dipilih sebagai dasar penyusunan format pementasan, tim perumus menetapkan keberadaan peran warok dalam pertunjukan reog. Memang benar, masyarakat Ponorogo mengenali adanya kaitan antara reog dan warok. Namun, kaitan tersebut umumnya dipahami sebagai hubungan antara kesenian dan penggemar fanatik atau patronnya. Lain tidak.

Dimasukkannya warok ke dalam struktur pertunjukan reog bisa dipahami sebagai upaya pemerintah setempat menampilkan warok sebagai ciri lain masyarakat setempat. Tapi, dalam hal ini pun terjadi proses seleksi mengenai citra warok seperti apa yang hendak ditampilkan.

Ada perbedaan signifikan antara persepsi masyarakat luas mengenai warok dan gambaran yang ditampilkan pemerintah kabupaten.

Bagi orang kebanyakan di Ponorogo, warok merupakan istilah kategoris yang disandangkan pada orang dengan kualifikasi tertentu, terutama kualifikasi fisik berupa kesaktian atau kekebalan. Mereka mengenakan sebutan warok pada seseorang dengan mempertimbangkan: Apakah dia pernah membunuh seseorang? Apakah dia mempan dibacok? dan sebagainya. Karena warok adalah gelar yang disandangkan masyarakat luas pada seseorang, maka pada dasarnya status kewarokan tidak bisa diklaim oleh diri sendiri, tak satu pun orang di Ponorogo yang menyatakan diri sebagai warok.

Gambaran yang ada di kalangan warga setempat ini berbeda dengan gambaran warok yang dipromosikan pemerintah setempat, yakni orang yang mumpuni dalam olah batin – tidak adigang, adigung, adiguna. Gambaran semcam ini tentu jauh berbeda dengan angan-angan masyarakat luas mengenai ciri-ciri fisik warok.

Mengikuti jalan pikir pemerintah setempat, besar kemungkinan seorang warok tidak berpawakan tinggi, besar, berwajah seram dengan kumis melintang seperti ditengarai orang Ponorogo pada umumnya; melainkan orang yang kurus ceking lantaran sering berpuasa menjauhkan diri dari hawa nafsu duniawi. Anehnya, buku Pedoman Dasar terbitan pemerintah tetap menggunakan gambaran warok versi masyarakat luas sebagai acuan dasar penuangan artistik, sebagaimana tampak dalam hal kostum (telanjang dada, atau kemeja terbuka), rias (kumis dan jenggot palsu, bulu dada, olesan pemerah di pipi, penebalan alis), maupun dalam tata gerak (adegan perkelahian dan latihan bela diri).
Kiranya tidak sukar dipahami bahwa ditetapkannya warok sebagai salah satu jenis peran yang muncul dalam pertunjukan Reyog Ponorogo mengundang berbagai tentangan. Mereka yang mempersoalkan kemunculan warok sebagai salah satu peran pertunjukan reyog kebanyakan mengacu pada kisah asal-usul Reyog Ponorogo dan menegaskan bahwa tak ada satu pun kisah-kisah tersebut yang menyebut warok sebagai salah satu tokoh sejak mula-jadi. Memang benar, dalam masyarakat Ponorogo beredar kisah-kisah heroik tentang kehebatan beberapa orang warok di masa lalu, bahkan salah satu kisah yang sangat populer sering diceritakan kembali dalam kesenian ketoprak. Sebagai contoh, tokoh warok legendaris yang bernama Warok Suramenggala.

Warok Suramenggala diyakini sebagai salah satu anak Suryangalam, yang sepeninggal ayahnya bermusuhan dengan kakak kandungnya, yaitu Warok Gunaseca. Namun kebanyakan orang Ponorogo berpendapat bahwa sumber dan periode yang dirujuk oleh kisah asal-usul reyog Ponorogo terpisah dari cerita dan periode kemunculan fenomena warok. Mereka menganggap cerita tentang Suramenggala berbeda satu generasi dengan cerita asal-usul reyog versi Batara Katong, sehingga penggabungan kedua cerita itu dengan menampilkan peran warok dirasa mengacaukan orientasi waktu yang dilukiskan pertunjukan reyog Ponorogo. Lagi pula, pada umumnya pertunjukan reyog di desa-desa memang tidak menampilkan warok sebagai salah satu peran pertunjukan.

Kamis, 21 April 2011

Cerita Tentang Reog v.2 ( Klana Sewandana )

Bentuk perbantahan tipikal semacam itu menegaskan bahwa sebenarnya kisah-kisah asal-usul reyog Ponorogo tersebut merupakan tradisi tutur atau verbal arts. Seperti dikemukakan Richard Bauman (1977), tradisi lisan sebenarnya kurang menilai penting ‘kebenaran’ hal yang dinyatakan lewat penuturan. Bobot pernyataan tidak dinilai berdasarkan kebenaran yang diukur dari kesesuaian antara yang dikatakan dengan bukti-bukti empiris.

Dengan kata lain, unsur penutur dan cara penuturannya menjadi lebih penting daripada kebenaran empirik pernyataannya. Oleh karenanya, permasalahan yang berkembang mengenai kisah asal-usul Reyog Ponorogo dapat dipahami sebagai persoalan pengalihan dari wacana lesan menjadi tulisan. Pengalihan tersebut membawa serta pergeseran dari ‘kebenaran’ diskursif yang dinamis menuju ‘kebenaran’ tekstual yang statis.

Format pertunjukan yang disusun tim kerja bentukan pemerintah Kabupaten Ponorogo disusun berdasarkan kisah tentang Kelana Sewandana yang muncul baik dalam versi Bantarangin maupun dalam versi Batara Katong.
Salah satu bentuk ‘pembakuan’ yang problematis adalah kehadiran tokoh Kelana Sewandana sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam pertunjukan Reyog Ponorogo. Pertunjukan reyog di desa-desa seringkali tidak menampilkan peran Kelana Sewandana, bahkan banyak kelompok reyog di wilayah Kabupaten Ponorogo tidak memiliki pemain pemeran tokoh ini. Hasil wawancara dengan sejumlah praktisi kesenian rakyat ini mengesankan bahwa sebenarnya bagi kebanyakan kelompok reyog setempat kehadiran Kelana Sewandana bukan keharusan. Seorang mantan aktivis reyog di desa Sawoo berusia sekitar 70 tahun menuturkan bahwa pada tahun 1950-an kelompoknya kadang-kadang menampilkan Kelana Sewandana. Dituturkan pula bahwa pemeran Kelana Sewandana desa tersebut sering menyisipkan tembang jenis palaran dalam pementasan. Namun, ketika pemeran tersebut meninggal dunia, cukup lama kelompok reyog desa Sawoo tersebut tidak menampilkan peran raja Bantarangin tersebut. Baru pada akhir tahun 1990-an, setelah di desa Sawoo ada seorang pemuda yang menempuh pendidikan tari di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta, Surabaya, maka kelompok reyog desa tersebut memiliki pemeran Kelana Sewandana lagi. Kelangkaan pemeran tokoh Kelana Sewandana merupakan hal yang lumrah dalam lingkungan kelompok reyog desa di Ponorogo. Langkanya pemeran Kelana Sewandana sering dijelaskan sebagai akibat dari tuntutan teknis tari yang tinggi bagi pemeran tokoh ini. Asumsi semacam ini diperkuat oleh kenyataan bahwa sebagian besar pemeran Kelana Sewandana yang ada di wilayah Kabupaten Ponorogo adalah mereka yang pernah mengenyam pendidikan tari; baik di pendidikan formal maupun di sanggar-sanggar tari di dalam atau luar kabupaten.

Dewasa ini, meskipun terdapat semakin banyak orang yang dapat memerankan Kelana Sewandana, kemunculan tokoh raja Bantarangin ini dalam pertunjukan di desa-desa pun masih relatif jarang. Pengamatan di lapangan menunjukkan adanya kecenderungan penari pemeran Kelana Sewandana hanya muncul secara terbatas pada acara-acara tanggapan yang bersifat formal, misalnya pada acara perkawinan. Pada acara-acara yang bersifat komunal dan kurang formal, misalnya bersih desa atau kaulan nadar, umumnya tokoh raja Bantarangin ini tidak ditampilkan.

Rabu, 20 April 2011

Cerita Tentang Reog v.1

Posted by UD. SUROMENGGOLO 15.08, under | No comments


Lisan ke Tulisan: Kisah Asal-usul
Persoalan pilihan juga terjadi dalam hal kisah asal-usul dan bentuk pertunjukan reyog. Di kalangan masyarakat dan pelaku reyog di Ponorogo beredar berbagai versi cerita asal-usul kesenian tersebut. Begitu pula di sana juga terdapat sejumlah variasi pertunjukan reyog. Dengan demikian muncul persoalan: cerita asal-usul mana yang akan dipakai sebagai landasan penentuan reyog sebagai identitas lokal? Reyog macam apa yang dipilih?

Secara garis besar, di Ponorogo paling tidak dikenal 3 (tiga) versi utama kisah asal-usul Reyog Ponorogo, yitu :

Versi Bantarangin, Versi Ki Ageng Kutu Suryangalam, dan Versi Batara Katong.

Versi Bantarangin menyebut empat peran dalam reyog: seorang raja kerajaan Bantarangin bernama Kelana Sewandana, Patihnya yang bernama Bujang Ganong, sekelompok prajurit kavaleri kerajaan Bantarangin, dan Singa Barong penguasa hutan Lodaya.

Sementara itu, versi Ki Ageng Kutu Suryangalam hanya mengenal tiga peran: Bujang Ganong, sekelompok pasukan berkuda, dan Singa Barong. Dalam hal jumlah dan identitas peran dalam reyog Ponorogo versi Batara Katong sebenarnya tidak berbeda dari versi Bantarangin.

Versi Batara Katong juga mengenal keempat peran di atas. Namun, berbeda dari versi Bantarangin, versi Batara Katong memahami ke empat peran dalam reyog tersebut sebagai rekaan Ki Ageng Mirah – salah seorang pengikut Batara Katong – dalam upayanya menyebarkan agama islam di kalangan masyarakat Ponorogo pada abad XV (menjelang runtuhnya Majapahit).

Untuk mengatasi persoalan seperti itu pada bulan September 1992 pihak pemerintah kabupaten setempat membentuk sebuah tim kerja yang bertugas mempersiapkan sebuah naskah yang memuat aspek sejarah, kisah asal-usul, serta aspek filosofis kesenian rakyat tersebut; serta menguraikan tata rias dan busana, musik, peralatan, dan aspek koreografinya.
Tim tersebut beranggotakan para seniman reyog Ponorogo, tokoh masyarakat, dan pejabat pemerintahan kabupaten. Hasil kerja tim tersebut berupa naskah berjudul Pembakuan Kesenian Reok Ponorogo Dalam Rangka Kelestarian Budaya Bangsa (Soemardi, 1992), yang dipresentasikan dalam sebuah saresehan di Pendapa Kabupaten Ponorogo, 24 Nopember 1992.

Setelah mengalami sejumlah revisi, pada tahun 1993 naskah tersebut diterbitkan oleh pemerintah daerah setempat dalam bentuk buku berjudul Pedoman Dasar Reyog Ponorogo Dalam Pentas Budaya Bangsa. Revisi terpenting dilakukan pada unsur sejarah dan legenda asal-usul. Semula naskah Pembakuan hanya mencantumkan satu varian dari versi Bantarangin.

Dalam buku Pedoman Dasar dimuat ketiga versi utama kisah asal-usul reyog Ponorogo dan ditempatkan secara kronologis.
Versi Bantarangin yang merujuk pada jaman kerajaan Kediri (abad XI) dianggap sebagai versi tertua diletakkan pada bagian paling awal,
disusul oleh versi Ki Ageng Kutu Suryangalam yang merujuk pada masa pemerintahan Bhre Krtabumi di Majapahit (abad XV),
dan diakhiri oleh versi Batara Katong yang merujuk pada penyebaran agama Islam di wilayah Ponorogo pada abad XV pula (ditandai dengan dikalahkannya Ki Ageng Kutu Suryangalam yang beragama Budo oleh Batara Katong yang beragama Islam).

Dengan cara pandang seperti itu, pemerintah setempat menempatkan versi Batara Katong sebagai bentuk perkembangan terakhir, dan mendudukkan upaya pemerintah setempat di akhir abad XX sebagai kelanjutannya.

Bisa diperkirakan bahwa persoalan kisah asal-usul reyog Ponorogo ini mengundang perbantahan di kalangan pelaku kesenian tersebut. Sejumlah tokoh masyarakat dan praktisi reyog yang hadir dalam saresehan pada waktu itu menceritakan kembali bagaimana suasana pertemuan tersebut berubah menjadi arena perdebatan yang sengit antara pihak-pihak yang bersikukuh pada ‘kebenaran’ kisah yang diyakininya.

Sebuah bentuk argumentasi tipikal dalam perdebatan mengenai ‘kebenaran’ kisah asal-usul Reyog Ponorogo adalah pertanyaan mengenai ketuaan periode sejarah yang dirujuk oleh masing-masing cerita. Pertanyaan semacam ini biasanya diajukan untuk mengklaim bahwa versi yang merujuk pada periode sejarah yang lebih tua dianggap lebih otentik. Memakai tolok ukur serupa itu, maka versi Bantarangin yang merujuk pada abad XI (masa kerajaan Kediri) dipandang sebagai kisah yang lebih otentik. Namun, klaim serupa itu mendapat tantangan dari pihak lain yang menggunakan tolok ukur ‘kebenaran’ berbeda.

Sekedar sebagai contoh, mereka yang tidak sepakat dengan versi Bantarangin, meragukan kebenaran versi Bantarangin karena terdapat kejanggalan antara gelar yang disandang oleh guru dari raja Bantarangin (Kelana Sewandana), yakni Sunan - yang bernuansa Islam, dengan periode sejarah yang dirujuknya, yaitu jaman kerajaan Kediri yang Hindu.

Dalam perbantahan semacam itu ‘kebenaran’ juga sering ditegakkan dengan cara menemukan kesesuaian antara nama-nama yang disebutkan dalam cerita dengan kondisi alam suatu daerah. Contohnya, orang menanggapi nama Bantarangin sebagai kerata basa dan menafsirkannya sebagai petunjuk mengenai sebuah lokasi di mana angin bertiup dengan kencang (Jawa: banter). Penafsiran semacam itu kemudian dicocokkan dengan kondisi alam daerah Sumoroto yang diyakini sebagai lokasi kerajaan Bantarangin. Bahkan nama Sumoroto pun juga ditafsir sebagai petunjuk mengenai daerah yang datar (Jawa: rata).

Selasa, 19 April 2011

Sekelumit Cerita Tentang Warok

Posted by UD. SUROMENGGOLO 03.39, under ,,, | 1 comment


Ponorogo identik dengan reognya. Reog bahkan sudah terkenal di dunia, sejak beberapa lama. Kelompok reog, memang tumbuh dan berkembang di mana-mana sebagai kesenian rakyat. Dari cerita tentang reog, baik yang dibicarakan secara terbuka maupun bisik-bisik, muncul pertanyaan. Apa yang menyebabkan seseorang mampu mengangkat dhadhak merak seberat 50 kilogram? Padahal, hanya dengan menggigitnya. Kekuatan gaib apa yang merasuk ke dalamnya?
Ada kekuatan yang tiba-tiba, ketika gigi manusia kuat mengangkat dhadhak merak seberat 50 kilogram. Orang biasa, tentu tidak kuat. Padahal, ia mengangkatnya sambil menari-nari. Pertanyaan ini masih terus berkembang, ketika kesenian reog dari Ponorogo ini ditampilkan. Pada tahun 1486, hutan dibabat atas perintah Bethara Katong. Bukannya tanpa rintangan. Banyak gangguan dari berbagai pihak, termasuk makhluk halus, datang. Namun, karena bantuan warok dan para prajurit Wengker, akhirnya pekerjaan membabat hutan itu lancar.

Lantas, bangunan-bangunan didirikan. Penduduk berdatangan. Setelah menjadi sebuah kadipaten, Bethara Katong kemudian memboyong permaisurinya, yakni Niken Sulastri. Sedang adiknya, Suromenggolo, tetap di tempatnya yakni di Dusun Ngampel. Oleh Katong, daerah yang baru saja dibangun itu diberi nama Prana Raga. Akhirnya, dikenal dengan nama Ponorogo.

Katong sadar ada kesenian yang bisa dikembangkan sebagai media penyebarluasan dakwah. Maka, pada tahun itu pula ia memasukkan seuntai tasbih di ujung paruh burung merak. Namun, kesenian ini sempat surut pada zaman Belanda dan Jepang.
Menurut penjelasan Sugiarso, yang menulis Sejarah Budaya Ponorogo (Penerbit Reksa Budaya, Ponorogo, 2003), pada waktu itu Belanda dan Jepang merasa direpotkan oleh kerumunan massa.
Mereka sangat takut, sehingga sempat surut karena ada larangan penjajah. Namun, semangat masyarakat tak surut.

Bahkan setelah kemerdekaan reog tidak lantas mati, justru tumbuh subur. Bahkan, sampai sekarang ini setiap Grebeg Suro yang jatuh pada 1 Muharam, reog selalu menjadi daya tarik utama. Dalam acara itu juga diadakan upacara larung risalah doa yang diadakan di Telaga Ngebel. Telaga ini terletak sekitar 24 kilometer arah timur laut Ponorogo. Berada pada ketinggian 734 meter di atas permukaan laut. Udaranya sejuk, dan di telaga itu banyak durian, nangka dan manggis bisa diperoleh.

Selain reog, ternyata warok juga sangat dominan di Ponorogo. Warok merupakan warisan budaya leluhur yang berkembang turun-temurun dan menjadi satu penyangga keutuhan daerah Ponorogo sejak masa lalu. Tak bisa dipungkiri, memang terjadi aneka ragam penafsiran mengenai warok.

Hampir tidak ada kepastian yang bisa mengklaim kebenaran seiring dengan perkembangan budaya. Namun, akhirnya pasti akan ditemukan sintesa dari kesamaan maksud atas makna yang berkembang itu. Apalagi warok sudah ada sejak zaman Wengker Kuno. Sejak runtuhnya Kerajaan Medang Prabu Darmawangsa Teguh, muncul kerajaan baru. Misalnya Kerajaan Wengker di Gunung Lawu dan Gunung Wilis.

Kerajaan Wengker didirikan Ketut Wijaya. Ia memang tidak ada hubungannya dengan Raden Wijaya pendiri Majapahit itu. Ketut Wijaya sering dikatakan mempunyai cara hidup seperti rahib Buddha, yang ditandai dengan laku membujang, memiskinkan diri dan ahimsa. Perilaku raja ini memperoleh respons dari pengikutnya dan berkembang ke masyarakat.

Raja ini juga mengangkat punggawa dan prajurit yang diambil dari pemuda-pemuda dan warok. Namun, tahun 1035 Kerajaan Wengker ini dikuasai Airlangga dan namanya diubah menjadi Kahuripan. Meski begitu, para warok tetap melanjutkan kehidupan sucinya. Sebagian ada yang menjadi penguasa lokal, yang dipercaya raja untuk mengendalikan wilayahnya.

Cikal bakal warok, berkesinambungan lagi setelah masa akhir Majapahit, sekitar 1450. Pada waktu itu Prabu Brawijaya V mempercayakan Ki Demang Suryonggalam untuk menjaga bekas Kerajaan Wengker. Ki Demang adalah kerabat sang prabu dan merupakan pemimpin warok. Kemudian sang demang menghimpun para warok untuk digembleng menjadi perwira tangguh. Momentum inilah, yang sering dikatakan sebagai cikal bakal eksistensi warok tahap kedua.

Para warok lebih eksis lagi setelah Bethara Katong mengambil alih kekuasaan Demang Suryangalam. Lantas mendirikan Ponorogo, dan memberi kedudukan yang istimewa pada para warok. Katong tahu, warok-warok itu punya kultur Hindu Buddha. Namun mereka sangat dipercaya masyarakatnya. Sementara Katong sendiri beragama Islam. Maka, terjadilah akulturasi budaya yang cantik antara Hindu Buddha dan Islam. Sejak Bethara Katong itulah posisi warok sangat istimewa di kalangan masyarakat.


Selasa, 22 Maret 2011

KEPALA BARONGAN BARU




belum lama ini kami telah membuat beberapa barang dagangan baru berupa 4 buah kepala barongan/caplokan/cekatha'an yang dpt di bilang dalam kategori unggul, itu di karenakan kulit harmau yang di olah masih basah sehingga bagus jika di jadikan kepala barongan. bagi dulur-dulur yang ingin membeli kepala barongan dengan kualitas bagus dan harga terjangkau silakan datang ke tempat kami,, di dsn. Grenteng, ds. Ngampel, kec. Balong Ponorogo dengan no telp 081335957677


Rabu, 16 Maret 2011

PENGGARAPAN REOG MINI SMP N 1 PONOROGO

Posted by UD. SUROMENGGOLO 23.52, under ,, | No comments

Ponorogo adalah kota asalnya reog ponorogo, oleh karena itu dari kalangan muda sampai dewasa turut bangga dengan kesenian reog ponorogo,, sampai-sampai setiap sekolah SMP dan SMA di ponorogo rata-rata mempunyai reog dan menjadikannya mulok (muatan lokal) di sekolah tersebut. kali ini saya kan menceritakan penggarapan reog SMP N 1 PONOROGO yg merupakan sekolah RSBI (rancangan sekolah berstandart internasional), ini gambar2 dr reog SMP N 1 Ponorogo yg kami garap
tampak depan reog mini SMP N 1 PONOROGO



tampak belakang reog mini SMP N 1 PONOROGO

dimanapun tidak ada reog mini yang memakai cohung/badan merak asli,,biasanya reog mini menggunakan burung merak bordir-an,,,, namun SMP N 1 PONOROGO meminta reognya memakai burung merak asli seperti halnya pada reog besar '(di pakai orang dewasa) selain itu juga menggunakan kepala barongan/caplokan asli dr kulit bagian kepala macan biasanya kalau reog mini hanya menggunakan kulit badan macan,,,,, 4 jempol bwt REOG SMP N 1 PONOROGO,,,,,,

NB: BAGI DULUR2 YG MEMBUTUHKAN DADAK MERAK ATAU CAPLOKAN/LEPALA BARONGAN SILAKAN DATANG KE TEMPAT KAMI, dsn.Grenteng, ds.Ngampel, kec.Balong Ponorogo,,,,

Tags

Labels